Home / Berita Utama / Berita Mingguan / Gambar pada Dinding Rumah Inang itu Menginspirasi

Gambar pada Dinding Rumah Inang itu Menginspirasi

Sontak terbayang di pelupuk mata Romo Raymundus Sianipar OFM Cap, sebuah gambar yang menempel pada tembok rumah Inang-nya di Balige, Sumatera Utara. Gambar yang berukuran sedang itu tiba-tiba seperti hidup. Gambar itu adalah lukisan Yesus yang menggendong anak domba dan berjalan diikuti domba-domba gembalaanNya. Ya, bayangan itu tiba-tiba muncul ketika Romo Ray, demikian sapaan akrab Pastor Paroki Bekasi Utara ini menerima penugasan pelayanan di Paroki Bekasi Utara, Gereja Santa Clara bulan Agustus 2012.

Apa hubungan antara gambar Yesus tersebut dengan penugasannya di Bekasi? Pada awal penugasannya itu, ia berkenalan dengan “Spiritualitas Gembala Baik dan Murah Hati,” sebuah semangat yang menghidupi pelayanan pastoral di KAJ. “Kenangan atas gambar itu memberi kenyamanan dan perlindungan, tuntunan dan keterjaminan, kasih dan pengampunan, kehadiran dan kepedulian, kesahajaan dan kesederhanaan, kelembutan dan kemurahatian,” ungkapnya semangat. Saat itu, dia juga langsung terkenang-kenang dengan cerita frater dan guru sekolah minggu yang mengisahkan Yesus sebagai gembala yang baik.

Kenangan atas gambar itu memberi kenyamanan dan perlindungan, tuntunan dan keterjaminan, kasih dan pengampunan, kehadiran dan kepedulian, kesahajaan dan kesederhanaan, kelembutan dan kemurahatian

Pertautan antara imajinasi dari kampung dan perjumpaan dengan spiritualitas pelayanan di KAJ tersebut meneguhkan atau merevitalisasi semangatnya untuk menjadi gembala yang mau menyatu dan memberi pelayanan terbaik kepada umatnya, tanpa membeda-bedakan. Karenanya, dalam berbagai pertemuan dengan pengurus lingkungan atau seksi yang “mengeluh” dan memberi pertanyaan “kalau umat yang sama sekali tidak aktif, apakah perlu dilayani saat minta pelayanan,” ia selalu menjawab “kita wajib melayani mereka dengan murah hati, justru mereka inilah yang perlu mendapat perhatian”. Mendengar pernyataan bijaknya ini, pengurus yang bertanya, hanya bisa merenung dan tetap memberi pelayanan kepada semua warga lingkungan. Dia seakan mengatakan bahwa matahari terbit untuk semua orang di bawah kolong langit, dan karenanya semua berhak mendapatkan kehangatan sinar dan binar sang mentari. Ini senada dengan ajaran iman bahwa Allah mengasihi semua orang, baik yang aktif maupun tidak.

“Saya yakin atas bimbingan Roh Kudus, Gereja KAJ hidup berdasarkan spiritualitas Gembala Baik dan Murah Hati. Spiritualitas ini jelas menunjukkan nilai-nilai injili yang mesti dihayati oleh seluruh umat beriman. Hidup seturut teladan Yesus Kristus, Sang Gembala Baik, mengenal dan dikenal domba-dombaNya. Menjadi Gereja yang peduli, penuh kasih, hadir nyata, sederhana dan penuh pengampunan. Gereja yang mencari yang hilang, memberi penghiburan, penuh kelembutan, penyembuh luka, semangat berbagi dan gembira,” jelas imam bersuara merdu ini.

Dalam berbagai cara ia memerhatikan dan menggembalakan umatnya. Ia juga bahkan berusaha hadir di antara masyarakat kecil dengan apa adanya, misalnya antara lain dengan keluar masuk kampung hanya untuk ngopi di warung-warung  kecil. Di sana, ia bisa ngobrol bebas dengan siapa pun dan tentang apa pun.

Dari obrollan ringan dan yang kerap terasa ngalor-ngidul di warung kopi itu, Romo Ray merasa mendapatkan berbagai hal bertenaga yang benar-benar menguatkan panggilannya sebagai seorang gembala. Dia menyaksikan dan mendengar bagaimana dalam segala kesederhanaan dan keterbatasan, orang-orang kecil bertahan hidup dan hidup apa adanya. Dengan segala keadaan dan keterbatasan dan mungkin kelebihan, mereka mengolah hidup mereka dengan baik dan juga dengan tidak baik. “Mereka inilah pejuang sesungguhnya. Ya, mereka berjuang untuk bertahan. Saya kira dalam kebertahanan mereka, saya atau kita harus belajar dari orang-orang semacam ini,” ungkapnya di pastoran pada suatu waktu.

Belakangan ini, Romo Ray agak jarang nongkrong di warung-warung kampung tersebut karena hampir semua warga di sekitar warung kopi tersebut sudah mengenalnya sebagai seorang imam Katolik. “Kalau saya muncul lagi, pada teriak ‘hallo, Romo. Apa kabar…’. Ada sesuatu yang berbeda. Tadinya biacara apa adanya, kemudian mereka bicara lebih tertata dan segan, padahal saya inginkan yang apa adanya saja,” kata penyuka kopi ini.

Dalam kehadirannya di tengah umat dan masyarakat kecil, ia mau mengasah ketajaman semangat pelayanannya sebagai gembala yang baik dan murah hati. “Untuk menjadi gembala yang baik dan murah hati itu tidak mudah. Harus dilatih, diasah dan dipertajam dengan berbagai cara. Doakan semoga saya dan teman-teman di sini berhasil,” katanya memohon.

Tentang Admin

Lainnya

Misdinar Santa Clara Makin Bersinar Sandingkan Johanes Paulus II Cup dan Chiericetta Cup

Misdinar Santa Clara (Mistara) dari Paroki Bekasi Utara berhasil menyandingkan Johanes Paulus II Cup (JP2 …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *