Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam : 22 November

ilustrasi

Yeh 34:11-12.15-17 1 Kor 15:20-26a.28 Mat 25:31-46

PENGANTAR

Sebagai Hari Minggu Penutup , hari ini merayakan . Dan dalam yang dipakai Yesus untuk menggambarkan bagaimana Ia akan tampil sebagai Raja, hal-hal yang akan diputuskan-Nya adalah sangat jelas dan tegas. Di situlah Yesus akan menentukan bagaimana nasib kita yang abadi nanti, sesuai dengan sikap dan perbuatan hidup kita dalam menghadapi keadaan dan kebutuhan sesama kita.

Dari apa yang dikatakan Yesus sebagai Raja, seperti dicatat oleh Matius dalam Injilnya, ternyata keputusan yang diambil Yesus dalam penghakiman-Nya terakhir bukan tergantung dari pengetahuan atau kepandaian kita, atau kedudukan, jabatan ataupun pangkat yang telah kita capai dan peroleh; bukan pula dari milik atau kekayaan betapa pun besarnya yang dapat kita miliki.

Di dalam perumpamaan itu kita dapat belajar untuk tahu dan mau menolong kebutuhan orang lain atau sesama kita. Dari isi perumpamaan itu kita dapat dan harus bersedia belajar untuk menolong atau membantu sesama kita dalam hal-hal kecil dan sederhana. Yesus menyebut beberapa hal: memberi makan orang lapar; ; memberi tumpangan kepada orang tak punya penginapan, , . Jadi yang dibutuhkan bukanlah pertama-tama memberi sumbangan jutaan, miliaran, triliunan rupiah. Bukan pula untuk berusaha agar nama kita tertulis dalam catatan sejarah, supaya selalu dikenal dan dikenang banyak orang! Pada dasarnya yang dipatut diketahui dan dilakukan ialah, bahwa kita harus membantu orang-orang yang kita jumpai setiap hari, siapa pun orangnya. Mengenal, memperhatikan dan menolong, di situlah sebenarnya letak kebesaran dan kebahagiaan Yesus dalam kehadiran dan perbuatan-Nya dalam masyarakat di mana Ia berada. Itulah yang diajarkan dan dilakukan Yesus. Itulah juga harus harus kita lakukan.

Pertolongan atau bantuan yang benar dalam bentuk apapun, yang kita berikan kepada sesama, harus kita berikan secara ikhlas tanpa perhitungan. Bukan disertai keinginan atau harapan untuk dipuji dan dihargai. Sikap pemberian semacam itu bukanlah kerelaan, melainkan lebih berupa suatu keinginan untuk lebih dipuji dan dihargai. Suatu sikap harga diri yang palsu dalam memberi pertolongan. Pertolongan atau bantuan yang dikehendaki dan diberkati Tuhan adalah pertolongan yang sungguh diberikan dengan rela hati dan tanpa perhitungan apapun.

Sungguh sangat penting apa yang ditegaskan oleh Yesus dalam hari ini kepada kita. Ia mengatakan, bahwa pertolongan apapun yang kita lakukan kepada orang lain, itu kita lakukan seperti dilakukan kepada Yesus sendiri. Begitu juga pertolongan yang tidak kita lakukan kepada sesama kita, juga tidak kita lakukan kepada-Nya. Mengapa? Karena Yesus diutus untuk memperkenalkan Allah sebagai Bapa-Nya dan Bapa kita yang mahakasih. Seperti diajarkan-Nya , tetapi juga seperti dilakukan-Nya sendiri, Yesus memperhatikan dan berbuat baik kepada semua orang, khususnya mereka yang membutuhkan pertolongan. Yesus melaksanakan apa yang dikehendaki Bapa-Nya sebagai Bapa yang sungguh baik hati terhadap segenap makhluk ciptaan-Nya sebagai anak-anak-Nya sendiri. Inilah yang diajarkan dan dilaksanakan Yesus dalam membantu atau menolong semua orang, khususnya justru kepada mereka yang paling membutuhkannya.

Yesus berkata: “ Apa yang kamu lakukan atau yang tidak kamu lakukan kepada orang lain, itulah sikap dan perbuatanmu yang sama dengan sikap hidup dan perlakuanmu terhadap diri-Ku.” Yesus dengan tegas menyamakan diri-Nya dengan orang-orang berkekurangan.

Namun mendengar kata-kata Yesus itu, jangan sampai kita menganggap Yesus berpendirian dan bersikap berat sebelah atau tidak adil. Seolah-olah Yesus hanya memperhatikan dan mengasihi orang-orang miskin atau berkekurangan saja, dan menentang atau memusuhi serta tidak mengasihi orang-orang yang kaya. Yesus tidak pernah menyalahkan apalagi memusuhi orang karena ia kaya. Tetapi Yesus tidak membenarkan dan memberkati orang kaya, yang dalam kekayaannya itu ia hanya mencintai dan memperhatikan kepentingannya sendiri, dan tidak ikut prihatin maupun memperhatikan nasib berkekurangan sesamanya, yang semartabat di hadapan Tuhan seperti dirinya sendiri. Dalam diri Yesus, Allah mengasihi semua orang yang sama martabatnya, bagaimana pun bentuk dan kondisi hidup mereka masing-masing.

Kita umat sebagai warganegara Indonesia yang mengikuti falsafah Pancasila yang berketuhanan, berusaha hidup, bersikap dan berbuat dengan berpegangan prinsip yang dipegang oleh Mgr. Albertus Soegijapranata: 100% Katolik, 100% Indonesia. Kita sebagai umat, sebagai Gereja adalah 100% Katolik, dan sebagai Gereja di Indonesia, dan sebagai bangsa adalah warganegara 100% Indonesia. Berkaitan dengan pesan Yesus dalam Injil Matius hari ini, kita diingatkan akan Sila Pertama dalam Pancasila: Ketuhanan yang mahaesa, namun sekaligus akan Sila Kelima: Keadilan sosial.

Marilah kita berusaha dengan penuh keyakinan dan dengan penuh iman, hidup menurut ajaran dan teladan Yesus sekaligus berpegangan pada Pancasila untuk saling menolong dengan sesama, khusunya saudara-saudari kita yang berkekurangan. Semoga Tuhan selalu memberkati kita.

Mgr. F.X. Hadisumarta O.Carm.

Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

Sumber : imankatolik.or.id

Skor Artikel

Related posts

Tentang Admin

Admin
Website ini adalah salah satu bentuk pelayanan untuk Paroki Bekasi Utara, Gereja Santa Clara Silahkan kirimkan tulisan anda melalui email : santaclarabekasi@gmail.com

Lainnya

Santo Yohanes dari Damaskus

Santo Yohanes dari Damaskus : 4 Desember

St. Yohanes dari Damaskus (John Damascene) hidup pada abad 7 – 8. Ia dilahirkan di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *