Home / Info Paroki / Profil Paroki / Tokoh / Ignatius Sukarman : Rasul dari Pantai Hurip Pondok Soga

Ignatius Sukarman : Rasul dari Pantai Hurip Pondok Soga

“Penyaluran Guru-guru ke Daerah Terpencil,” begitu salah satu nama program Pemerintah di bidang pendidikan pada tahun 1977 melalui Inpres. Entah tahun berapa sesungguhnya program ini dimulai. Namun yang pasti, program tersebut banyak diikuti oleh mereka yang merasa terpanggil sebagai tenaga pendidik atau guru.

Ignatius Sukarman bersama dua orang temannya, yakni Albertus Kartiman (sampai saat ini masih aktif di St Clara) dan Stephanus Sukidjo (sudah pulang kampung) mengikuti program tersebut dan ditempatkan di Pantai Hurip Pondok Soga, Babelan. Boleh dikatakan, hanya panggilan menjadi gurulah yang membuat mereka bersedia ditempatkan di daerah tersebut. Mengapa? Karena lokasi masih berupa hutan, walau penduduknya cukup banyak. Memang cocok dengan program Pemerintah berkategori “daerah terpencil”.

Masyarakat masih “terbelakang” dalam banyak hal. Mereka juga hanya mengenal orang sedaerah. Mereka pun belum mengenal agama atau orang beragama lain.

Allah memberikan kepada umatNya bukan Roh ketakutan. Melainkan Roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban (2 Tim 1: 7)

Terdampar dalam Keterasingan

Berbekal ijazah SPGK, kelahiran lahir di Sleman, Yogyakarta, 22 Agustus 1954 mengabdikan diri sebagai guru. Karman dan kawan-kawan tinggal di rumah   dekat sekolah. Rumah itu juga digunakan untuk klinik pengobatan seminggu sekali. Rumah tersebut tanpa fasilitas apa pun, juga tanpa listrik dan perabotan. Mereka tidur beralas tikar. Suasana malam terasa sangat mencekam. Nyamuk menjadi teman tidur pada malam hari. Suara babi hutan kerap kali terdengar dengan jelas, karena lingkungannya masih berupa hutan. Dalam kesunyian aku Pak Karman, demikian pria hitam manis ini biasa dipanggil, sering terdengar suara-suara makhluk aneh. “Ini sangat mencekam dan selalu menghantui kami. Hanya jangkrik menjadi pengiring tidur dan cahaya senthir yang menjadi cahaya dalam kelamnya malam,” jelasnya seakan tengah memutar film lawas.

Menjalani tugas sebagai guru di tempat ini, bukanlah hal yang terlalu sulit bagi Pak Karman dan kawan-kawan, apalagi salah satu Pro Diakon Santa Clara ini pernah bertugas di Tarakan, Kalimantan Utara. Yang tidak mudah untuk mereka adalah bagaimana masuk dalam lingkungan pergaulan dengan masyarakat yang berbeda budaya. Di sini daya kreasi mereka harus berkembang.

Karman berusaha dengan sungguh-sungguh agar anak didiknya pintar dan berbudi pekerti baik. Selain itu, ia juga bertekad memajukan kampung yang masih sangat ketinggalan itu.

Menebar Kasih Menuai Berkat

Berbekal semangat, tanpa fasilitas memadai, kegiatan belajar dan mengajar berjalan lancar. Tidak cukup memberikan pelajaran pada jam sekolah, sore hari pun Karman merelakan waktunya untuk kegiatan extrakurikuler, seperti bermain bola volly dan berkesenian. Semuanya dilakukan dengan tulus dan cinta. Tapi apa yang terjadi? Niat baik, tidak selamanya diterima dengan baik. Saat anak-anak sedang asyik bermain bola volly, datang beberapa warga sekitar. Tanpa sepatah kata,  mereka mengambil bola yang dipakai untuk bermain, lalu membelahnya menjadi dua. Entah apa yang mereka mau. Bukan hanya itu, saat anak-anak-anak belajar memainkan seruling, mereka juga melarang membunyikan alat-alat musik.

Waktu itu jelas Karman lagi, penduduk di daerah tersebut masih bergumul dengan perdukunan dan hal hal yang berbau mistis. Mereka juga belum bisa menerima kedatangan orang baru. “Entah apa masalahnya sampai sekarang masih menjadi misteri dalam pikiran saya. Kami benar-benar harus mengalah, karena kami pendatang dan orang baru di lingkungan itu,” kata pensiunan penilik sekolah ini.

Lantas, apa yang Karman dan teman-teman harus lakukan agar diterima? Usai mengajar mereka bercocok tanam. Ketika panen, mereka memersilakan penduduk setempat yang memanennya. Bukan hanya itu, mereka acapkali berkunjung ke rumah-rumah untuk membantu yang membutuhkan.

Dengan segala cara Karman secara pribadi menempa anak didik baik dengan mata pelajaran atau kegiatan ekskul.  Jerih payah terbayar dengan seringnya memenangkan lomba, bahkan ada yang mendapatkan beasiswa karena kepandaian mereka. Alhasil, lambat laun, mereka diterima.

Merindukan Ibadah

Bagi Karman, Pantai Hurip, Pondok Soga, Babelan saat itu, benar-benar terpencil. Suasana sepi kerap memunculkan kerinduan demi kerinduan. Mereka pun sangat rindu beribadah atau ikut Misa. Mulailah mereka mencari tempat yang terdekat. Berdasarkan informasi dari seorang teman, di sekolah Strada setiap hari Minggu pagi pada pukul 09.00 WIB ada Misa.  Mendengar informasi tersebut, hati mereka diliputi sukacita.

Dengan mengayuh sepeda mereka ke Strada. Mereka membutuhkan waktu dalam hitungan jam untuk bisa sampai ke Arnoldus. Banyak kendala yang menghadang di jalan, termasuk soal jalan yang sepi dan rusak. Mereka harus berangkat subuh-subuh menempuh jalan gelap gulita dan sepi. Jalan yang berbatu membuat ban sepeda mereka sering sobek. Belum lagi kalau musim hujan, kubangan di sana-sini. Mereka pun harus rela memanggul sepeda sebab lumpur menahan roda sehingga susah berputar. Terkadang untuk menghindari rintangan itu, mereka berangkat Sabtu sore dan menginap di sekolah Strada. Kalau tanggal muda, sepeda mereka titipkan di kecamatan Babelan, lalu menumpang angkot dari kecamatan Babelan ke Pasar Baru Bekasi.  Waktu itu angkot masih sangat jarang dan ongkos sangat mahal. Gaji sebagai guru tidak cukup untuk transport bila setiap beribadah naik angkot.

Membentuk Komunitas Kecil

Di tengah perjuangan yang tidak ringan, Karman dan kedua temannya mulailah mengumpulkan teman-teman guru untuk berdoa dan sharing iman. Karena keberadaan mereka, pada bulan Agustus tahun 1979, Pastor Jan Lali,  SVD mengunjungi mereka dan mempersembahkan Misa di tempat tinggal mereka.

Untuk menghindari kesalahpahaman, Karman memberitahukan adanya Misa ke Lurah Narsani. Selain para guru, tokoh-tokoh dari Arnoldus, Pak Siswanto dari Dinas Pendidikan Kabupaten Bekasi, Lurah, Kepala Sekolah dan simpatisan turut hadir. “Senang rasanya waktu itu,” ujar Karman.

Namun beberapa hari setelah kunjungan Romo Yan, mereka dilaporkan ke DPD Golkar karena dianggap ingin  mengkristenkan penduduk sekitar.

Meski tudingan tak berdasar itu menerpa mereka, Karman dan kawan-kawan, tetap menebar kebaikan dengan membantu masyarakat bercocok tanam untuk dibagikan penduduk sekitar.

Punya Keluarga

Seiring berjalannya waktu, Karman berkeluarga. Beberapa tahun kemudian dia pindah ke Babelan. Di Babelan Karman makin giat menghimpun teman-teman untuk sekadar berkumpul atau berdoa dan mengadakan arisan secara bergilir dari Babelan sampai ke Taruma Jaya.

Saat itu, daerah tempat mereka tinggal merupakan wilayah gereja Santo Arnoldus. St Veronica menjadi pelindung wilayah mereka. Wilayahnya mencakup Pengairan Bekasi sampai ke Taruma Jaya. Tahun 1991 Karman dipercayakan menjadi ketua Wilayah.

Tidak berbeda saat tinggal di Babelan maupun  di Pondok Soga. Walau sudah berupaya membaur bersama masyarakat dan menjadi warga yang cukup baik, ternyata keberadaan  mereka belum bisa diterima dengan penuh.

Beberapa peristiwa mengenaskan mereka alami. Waktu itu seorang teman mereka meninggal, lalu dimakamkan di tanah wakaf sekitar tempat tinggal mereka. Entah siapa  yang memulai, jenazah teman yang sudah dimakamkan itu harus segera dipindahkan karena protes warga. Dengan berat hati, pada hari ketiga makamnya dibongkar untuk dipindahkan di Mangun Jaya.

Satu kisah lagi yang sangat menyedihkan. Oleh karena perbedaan keyakinan, ketika putra Sukidjo meninggal pada Juli 1983, ia tidak boleh dikuburkan di pemakaman warga. “Sedih sekali kalau mengingat peristiwa itu. Akhirnya jenazah itu kami makamkan di tanah kosong milik kami,” ungkap Karman dengan mata berkaca-kaca.

Punya Paroki Baru

Karena pesatnya perkembangan umat di Bekasi, pada tahun 1995 Keuskupan Agung Jakarta memutuskan untuk memekarkan Paroki Santo Arnoldus untuk membentuk paroki baru. Waktu itu umat di Wilayah Matius hanya 8 Kepala Keluarga. Karman dipercayakan menjadi ketua Wilayah. Berkat usaha keras banyak pihak, pada tanggal 11 Agustus 1998 terbentuklah Paroki St Clara Bekasi utara. “Saya memang tidak melibatkan diri secara langsung  untuk turut memperjuangan gereja fisik. Saya lebih mengutamakan menghimpun umat untuk lebih mendalami iman dan memperjuangan jati diri supaya diterima masyarakat sekitar yang berbeda.  Panggilan Tuhan tidak selalu menjadi misionaris, Pastor, atau pekerja gereja. Saya terpanggil untuk menjadi pelayan umat. Sampai sekarang saya masih aktif melayani umat menjadi prodiakon. Dan anak-anak saya arahkan untuk selalu aktif di gereja, masyarakat tempat mereka tinggal,” jelas Karman.

C. Wahyuni

Tentang Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *