Home / Iman Katolik / Suara Umat / Jika Kehabisan Hosti dalam Misa

Jika Kehabisan Hosti dalam Misa

Ada yang terasa berbeda pada perayaan Misa Adven Minggu II di Gedung Serbaguna Seroja pada 9-12-2018. Saat penerimaan komuni, hosti habis sehingga sekitar 20 orang yang sudah antre untuk menerima tubuh Kristus tidak kebagian. Apa yang dilakukan Romo Nestor Togu yang memimpin Misa saat itu? Dia mengambil hosti yang belum dikonsekrasi dan membawa serta dengan piala berisi anggur-darah Kristus ke depan umat yang mengantre tersebut. Umat yang antre lalu menyambut hosti dengan terlebih dahulu mencelupkan ke dalam anggur. Bagaimana penjelasan terhadap “peristiwa” tersebut?

Menurut Romo Togu, dalam situasi pastoral tertentu, perlu ada kebijakan, semacam dispensasi (lihat KHK  85): untuk situasi pastoral tertentu (tidak biasa), perlu ada kebijakan.

Kristus Keseluruhan adalah Sakramen

Menurut Romo Togu, perlu ditekankan bahwa perayaan Ekaristi mesti dipahami sebagai suatu perjamuan mulai dari awal sampai berkat penutup. Jadi perayaan Ekaristi bukan hanya saat menerima komuni kudus. “Ini penting. Oleh karena ini perhatian dan fokus umat mesti terarah pada kehadiran Kristus selama perayaan liturgi,” katanya melalui pesan WhatsApp.

Romo Togu menjelaskan bahwa peristiwa kekurangan hosti seyogianya tidak akan terjadi sekiranya itu diadakan di dalam gedung gereja di mana ada tabernakel dan hosti kudus yang sudah dikonsekrasi masih tersedia di dalamnya. Namun dalam kasus tertentu di mana perayaan ekaristi diadakan di luar gedung gereja seperti di rumah atau di gedung serba guna, peristiwa kekurangan atau kelebihan hosti dapat terjadi.

Menurut Romo Togu, ketika hosti kurang seperti kasus di atas, ada beberapa kemungkinan yang dapat dilakukan oleh pastor: (1) jika umat tinggal sedikit namun hosti dirasa juga kurang cukup, maka pastornya dapat membagi-bagi hosti itu lagi dalam ukuran yang lebih kecil lagi supaya cukup untuk umat yang belum menyambut. (2) Jika umat masih banyak yang belum menyambut, pastornya mungkin hanya memberkati mereka.  (3) Atau kalau yang sisa hanya anggur yang sudah dikonsekrasi, anggur tersebut dapat diberikan kepada umat. Namun karena jumlah mereka banyak,  pasti tidak cukup. Maka pastor dapat memberkati hosti yang belum dikonsekrasikan lalu membagikannya kepada umat dengan mencelupkan hosti itu ke dalam anggur yang sudah dikonsekrasikan itu.

“Mungkin ada opsi lain juga misalnya pastornya akan mengonsekrasikan hosti-hosti itu dengan sekali lagi mendoakan Doa Syukur Agung, namun ini tentu akan membutuhkan waktu yang relatif lama lagi,” kata Romo Togu.

Sekali lagi, kata Romo Togu, itu hanya berlaku dalam situasi tidak biasa. Sejalan dengan itu, perlu diperhatikan juga instruksi “Pedoman Umum Misale Romawi” nomor 282 bahwa Kristus keseluruhannya adalah Sakramen dan diterima keseluruhan walaupun hanya menerima satu bagian saja (hanya hosti atau anggur misalnya).

Sikap Kita

Terkait topik “Kehabisan Hosti Dalam Misa”, bagaimana sikap kita? ini menjadi pertanyaan bagi kita sebagai umat gereja seandainya mengalami demikian di Paroki/Stasi atau misa di manapun. Ada tiga sumbangsih buah refleksi pribadi saya yang mungkin bermanfaat dan berkenan untuk kita semua.

Pertama, kita perlu bersikap memahami bahwa “kehabisan hosti” itu merupakan peristiwa “khusus” atau “kasuistik”. Kita akan jadi salah paham, bahkan menjadi hakim pengadilan, bahwa itu yang salah dan seharusnya begitu yang benar. Sebaiknya mengenai salah atau benar seputar Liturgi Ekaristi, biarkanlah Dewan Suci Gereja Katolik yang memutuskan. Kita ingat saja, bahwa pesta perkawinan di Kana saja kekurangan “anggur”, bahkan Ibu Maria mengatakan kepada Yesus: “Mereka kehabisan anggur” (Yohanes 2:3,dan seterusnya).

Kedua, apabila kita mengalami situasi seperti cerita di atas, baik di kapel/gereja, di rumah umat saat ibadat misa sakramen dan sakramentali lainnya, maka hendaknya kita tetap bersikap “menaruh hormat yang sebesar-besarnya terhadap Ekaristi Mahakudus” (bdk.KHK,898). Kita tetap “mengambil bagian aktif dalam perayaan Kurban mahaluhur itu” (bdk.KHK,898).

Ketiga, ketika kita tidak mendapat “hosti maupun anggur” pada saat misa misalnya, maka “dianjurkan dengan sangat partisipasi Umat yang lebih sempurna dalam Misa” (bdk.SC55). Dalam kejadian yang bersifat kasuistik, kita bersikap dengan “sikap-sikap batin yang serasi” (bdk.SC11), menikmati “santapan sabda Allah” (bdk.SC51) yang dibacakan pada misa/ibadat saat itu, atau mencecap-cecap buah-buah permenungan homili/khotbah Pastor sehingga kita “dipersatukan dengan Allah dan antar mereka sendiri sehingga akhirnya Allah menjadi segalanya dalam semua” (bdk.SC48).

MelkiPangaribuan

Tentang Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *