Home / Berita Utama / Lahir dari “Rahim” Santo Arnoldus

Lahir dari “Rahim” Santo Arnoldus

DARI KIRI FX Banu, F. Setiay, AJ Sahid, dan CP Wiyono

Sampai pada tahun 1998, wilayah Paroki Santo Arnoldus meliputi Kabupaten Bekasi dan Kotamadya Bekasi. Wilayah pelayanan terbilang sangat luas, sehingga terasa terhadap kehidupan rohani umat mengalami hambatan. Sementara itu, Pastor dan tenaga pastoral masih sangat terbatas. Untuk sampai ke gereja Santo Arnoldus yang terletak di Jl. Ir. Djuanda, bersebelahan dengan Terminal Bus Bekasi, bukan hal mudah bagi umat yang tinggal di sudut-sudut kedua wilayah adminstratif pemerintahan tersebut. Alat transportasi dari berbagai penjuru, terutama dari arah Babelan, masih sulit dengan kondisi jalan yang memprihatinkan.

Dengan kondisi tersebut, timbul ide dari beberapa umat yang berdomisi di daerah Bekasi Utara yang saat itu disebut wilayah 6 dengan ketua wilayah Bapak Hindarto, untuk menjadi stasi sendiri. Namun jauh sebelum menjadi stasi, sudah ada Sekolah Minggu (SM) di wilayah ini. Pertama kali diadakan di rumah keluarga Pujiarto lalu di rumah keluarga Johnson.

Sekolah Minggu itu, memiliki hubungan sangat dekat dengan menguatnya semangat membentuk stasi tersebut. Untuk melaksanakan SM dengan anggota yang kian bertambah, beberapa tokoh umat patungan untuk menyewa sebuah ruko di Kompleks Wisma Asri. Ruko ini bersambungan dengan dengan Ruko yang sampai saat ini (akhir 2018) masih dipakai oleh umat Santa Clara untuk merayakan ekaristi dan melakukan berbagai kegiatan lainnya.

Di Halaman Kapel Wisma Asri umat kusyuk

Seorang warga keturunan Thionghoa, Mintarya meminjamkan rukonya selama beberapa tahun—yang kemudian dibeli HKBP—untuk kegiatan SM. Di ruko inilah misa Stasi mulai diadakan. Pernah pula misa diadakan di Ruko lain yang bersebelahan punggung persis—sebelah studio foto Rajawali. Dalam misa dan berbagai kegiatan umat saat itu, nama yang tidak bisa dilupakan adalah nama Bapak Mathias (alm) dan Bapak Fransiskus Setiady. Mereka dengan semangat mendatangi  dan mengajak umat Katolik ke rumah-rumah untuk hadir dalam misa. Mereka menjelajahi wilayah yang cukup luas dengan sepeda untuk menemui umat, selain untuk menyampaikan undangan, juga untuk sekadar bertemu dan ngobrol. Anggota lingkungan Veronica di Wisma Asri saat itu sekitar 20-an KK.

Dari Wisma Asri,  sepulang kerja, Setiady menggunakan sepeda mengunjungi umat di daerah Babelan. Kondisi jalan rusak dan gelap gulita pada malam hari dengan tingkat kerawanan yang tinggi. Pada kesempatan lain, Setiady mengunjungi umat di daerah Seroja. Untuk kunjungan semacam ini, Setiady mengistilahkan “pendekatan hati dan iman”.

Romo Dominikus Situmorang dalam Ibadat Jumat Agung

Setiady mengisahkan, semangat awal umat luar biasa. Mereka tunjukkan itu dengan kebersamaan yang tinggi. Tingkat kehadiran dalam berbagai kegiatan bersama baik siang maupun malam sangat tinggi. Mereka saling menganggap sebagai saudara. Umat yang tidak hadir dalam kegiatan lingkungan dikunjungi, tanpa harus bicara soal kegiatan lingkungan. “Semangat saya waktu itu, hanya karena tanggung jawab saja. Dikasih tanggung jawab, sudah terima, ya harus dikerjakan apa pun risikonya. Capek, iya tapi harus tetap dikerjakan,” ujar Setiady (61) di rumahnya ditemani tiga orang “perintis” lainnya, yakni Bapak C.P Wiyono (69), Bapak A.J. Said (67) dan Bapak FX Banu Dandjadi (77).

Setiady, tergolong pandai bergaul. Di lingkungan tempat ia tinggal, masyarakat mengenal dia sebagai seorang Katolik. Dari namanya, sudah jelas. Dia pun dipanggil dengan nama Fransiskus. Tetangga-tetangganya fasih mengucapkan namanya. Dari relasi yang terbangun, Setiady tidak menemui masalah, tapi di beberapa tempat lain ada masalah. Ada teror-teror kecil, misalnya oleh oknum tertentu, pemilik rumah disuruh menurunkan Salib yang tergantung dalam rumah. Ditambahkan Wiyono, pergaulan saat itu sangat cair. Tidak terdengar tudingan kafir.

 

Para Tentara Inginkan Gereja

Wilayah Santa Clara saat ini merupakan wilayah dua paroki, yakni Paroki Santo Arnoldus dan Paroki Santo Mikael Kranji. Sebelum menjadi paroki sendiri, Santa Clara dan Santo Mikael adalah bagian dari Santo Arnoldus.

FX Banu (75) menuturkan, pada tahun 1970-an di Seroja sudah ada Kapella, sehingga kalau bicara soal Katolik di Bekasi Utara, awalnya dari Seroja. Para tentara yang Katolik yang tinggal di Seroja menghendaki memiliki Kapella.

Semula hanya ada empat keluarga Katolik di Seroja, termasuk Pak Banu. Lalu berkembang menjadi 7, lalu menjadi 14 dan seterusnya. Saat itu Pak Banu, seperti Setiady di Asri, dengan inisiatif sendiri mencari umat. Jika dia tahu ada orang Katolik atau minimal di rumah itu ada Salib, dia datangi untuk memastikan yang bersangkutan adalah Katolik atau bukan.

Gereja santa Clara sedang proses pembangunan

Suatu hari, dia melihat di rumah Kapten Suhardi Alib, pengawal Presiden ada Salib. Dia tidak sungkan untuk mengunjungi. Dari pertemuan dengan sang Kapten, tercetus keinginan membentuk lingkungan seroja menjadi wilayah Seroja dan sekitarnya. Pak Banu dan Kapten Suhardi Alib termasuk pendiri wilayah ini. Pak Banu kemudian menjadi anggota Dewan Paroki Santa Clara. Empat “umat perdana” tersebut adalah FX. Banu Tjahyadi (75 thn), Ignasius Budiyono, Suhardi Alip, Arief Purwono. Mereka ini kemudian mengajukan permohonan ke Yayasan Dharmais untuk meminta fasilitas ibadah.

Mula-mula secara oikumene, di Seroja diadakan kebaktian bersama. Pak Banu memerhatikan, hanya dirinya dan seorang temannya yang membuat tanda Salib. Setelah itu dia “bergerilya” mencari orang Katolik di wilayah Seroja dan sekitarnya. Kapten Suhardi Alip (alm) menjadi Ketua Lingkungan, Pak Banu menjadi Sekretaris Lingkungan.

Meski jauh-jauh, umat rajin datang ikut misa. Kapel di Seroja selalu penuh. Karena Kapellanya kecil, halaman sekolah dipakai juga. Umat semakin bertambah karena banyak orang yang pindah dari Jakarta. Ketika menjadi Paroki, umat Santa Clara sudah mencapai 800-an KK.

Dalam membangun hidup menggereja di Bekasi, Wiyono mengingat kata-kata Uskup Leo Soekoto SJ yang mengatakan, “Kalian itu hidup di daerah hijau. Kamu itu ibarat panah, kalau panah sudah melesat akan menembus orang. Kamu boleh memanah, namun jangan melukai orang”.

Dulu di paroki ini pernah ada komunitas suster. Awalnya tinggal di rumah keluarga Hindarto, kemudian menempati sebuah rumah di Wisma Asri. Kemudian ada yang menghasut tuan rumah, sehingga para suster diusir dengan alasan tuan rumah mau mengubah rumah itu menjadi sekolah. Pelayanan para suster ini diarahkan untuk anak-anak yang ditinggal orang tuanya bekerja.

Dalam perkembangan selanjutnya, para suster ini mendapat tanah di wilayah paroki Santo Albertus Harapan Indah sehingga mereka pindah. Sejak itu tidak ada lagi komunitas suster yang berkarya di wilayah Santa Clara.

 

Data Paroki

Berdiri                         : 11 Agustus 1998

Nama                          : Gereja Santa Clara, Paroki Bekasi Utara

Jumlah Wilayah          : 11

Jumlah Lingkungan     : 58

 

Pastor yang pernah melayani:

  1. P. Thomas Saragi, OFMCap
  2. P. Raymundus Simanjorang, OFMCap
  3. P. Dominikus Situmorang, OFMCap
  4. P. Raymundus Sianipar, OFMCap

 

Pastor Rekan yang pernah melayani:

  1. Albert Pandiangan OFMCap
  2. Ignasius Simbolon OFMCap
  3. Lucianus Lumbangaol OFMCap
  4. Monaldus Banjarnahor OFMCap
  5. Alexander Silaen OFMCap
  6. Jonam Sipayung OFMCal
  7. Hugolinus Malau OFMCap
  8. Togu Nestor Sinaga OFMCap
  9. Anselmus Haloho OFMCap

 

Diakon yang pernah melayani:

  1. Hilarius Kemit OFMCap
  2. Nicodemus Ginting OFMCap
  3. Alexander Silaen OFMCap
  4. Jonam Sipayung OFMCap

Tentang Admin

Lainnya

Penunjukan Saya adalah Bentuk Penghormatan Gereja kepada Indonesia

Oleh: Joan Aurelia, Widia Primastika – 11 September 2019 Diprediksi menjadi kardinal sejak lama. tirto.id …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *