Home / Berita Utama / Berita Mingguan / Segitiga Emas Betawi Kampung Sawah Milik Muslim dan Kristen

Segitiga Emas Betawi Kampung Sawah Milik Muslim dan Kristen

Jakarta – Ada segitiga emas di pinggiran Jakarta. Segitiga ini dijaga oleh masyarakat Islam, Kristen Protestan, dan Katolik.

Letak segitiga emas itu ada di kantong toleransi umat beragama, namanya adalah Kampung Sawah, Kota Bekasi, Jawa Barat. Bila dilihat di peta, letaknya tepat di sebelah tenggara mepet batas Jakarta.

Selasa (15/1/2019), detikcom mencoba melihat segitiga emas itu. Siang itu, cuaca terbilang cerah. Jalan Raya Kampung Sawah cukup ramai oleh kendaraan yang melaju, maklum ini jam pulang sekolah. Terlihat anak-anak berseragam SMP Strada warna kuning-biru di sisi jalan.

Pertokoan di sekitarnya juga tampak hidup. Mulai dari jasa fotokopi, cuci mobil, hingga warung makan Padang tak sepi dari pelanggan.

Dalam satu deret jalan di kampung ini berdiri Gereja Katolik Santo Servatius, Gereja Kristen Pasundan (GKP) Jemaat Kampung Sawah, dan Masjid Agung Al Jauhar Yasfi. Seolah, ketiga tempat ibadah ini membentuk bidang tertentu.

Gereja Katolik Santo Servatius (Foto: Adhi Indra Prasetya/detikcom)

Saya bertemu tokoh muslim di sini, yakni Kiai Haji Rachmadin Afif. Sosok 74 tahun ini menjelaskan perihal tiga tempat ibadah yang berdekatan ini.

“Secara kebetulan dua gereja dan masjid di sini fisiknya berdekatan, istilahnya segitiga emas,” kata Rachmadin kepada detikcom di kediamannya, persis di sebelah Masjid Agung, Kampung Sawah, Pondokmelati, Kota Bekasi, Selasa (15/1/2019).

Rachmadin (Foto: Adhi Indra Prasetya/detikcom)

Pria asli Kampung Sawah ini mengenakan peci dan pakaian putih. Dia merupakan sosok yang dituakan di Kampung Sawah. Dia mendirikan Yayasan Fisabilillah, belakangan lebih dikenal dengan singkatan ‘Yasfi’, pada tahun 1977. Yayasan ini didirikan untuk mengakomodasi ibadah dan pesantren di sini, di kampung yang juga dikenal sebagai tempat Betawi Nasrani, terlihat dari gereja-gereja di dekat Masjid Agung Al Jauhar Yasfi.

“Yang dikenal ada banyak gereja itu ya Kampung Sawah. Jadi sejak dulu, sejak zaman Belanda sudah ada,” kata Rachmadin.

Masjid Agung Al Jauhar Yasfi dan Gereja Katolik Santo Servatius hanya berjarak sekitar 130 meter. Kubah masjid berwarna putih hijau mudah terlihat bila masyarakat berjalan dari arah Gereja Katolik. Di antara Masjid dan Gereja Katolik, ada GKP Jemaat Kampung Sawah.

Dua gereja di sini punya sejarah panjang yang dimulai dari Abad 19, masa kolonial Hindia-Belanda. Jadi toleransi warga Islam dan Nasrani di sini sudah berlangsung lama.

Saya mendengar sendiri suara lonceng dari Gereja Santo Servatius. Dentangan lonceng berbarengan dengan lantunan ayat-ayat suci yang digemakan dari Masjid Agung Al Jauhar Yasfi, jelang magrib. Begitulah suasana di kawasan segitiga emas. Harmonisasi ini menambah kesyahduan lembayung senja di pinggiran Jakarta.

“Ya suara adzan, suara lonceng. Ketika di masyarakat ada pengajian, ketika di masyarakat, ada kebaktian, nggak masalah, itu masing-masing. Tapi ketika untuk kepentingan dunia, kita harus bersama,” kata Rachmadin.

Saya menemui Jacob Napiun, tokoh masyarakat dari Betawi Katolik di Kampung Sawah. Jacob membenarkan yang disampaikan Rachmadin, komunitas Betawi Nasrani sudah terbentuk sejak Abad 19 silam, saat pengaruh Belanda masih lekat di masyarakat.

“Mulai saat itu, berkembang dan berkembang sehingga di kampung sawah ini ada dua komunitas keyakinan (Nasrani) antara Protestan dengan Katolik yang letaknya itu berseberangan jalan, seperti sekarang ini. Itu memang peninggalan zaman dulu,” kata dia.

Tentu saja bangunan fisik gereja sudah mengalami renovasi dan perubahan seiring waktu berjalan, namun masyarakat yang khas di Kampung Sawah ini sudah eksis sejak dahulu kala. “Walaupun sekarang gedungnya sudah direhabilitasi atau direnovasi, tapi keberadaan lembaga-lembaga agama ini sudah sejak 1800-an,” kata Jacob.

Kata dia, umat Kristen Protestan sudah lebih dulu ada di sini ketimbang Katolik yang muncul secara terkonsolidasi tahun 1896. Menilik keterangan dari GKP Kampung Sawah, gereja itu telah melayani jemaatnya sejak 16 Juni 1874.

Jacob lebih suka menyebut kerukunan ini sebagai kerukunan masyarakat, karena masyarakat sendiri sebenarnya tak terlalu mempersoalkan agama. Justru agama menjadi penguat kerukunan itu. Tentu cara hidup bersama seperti ini tidak bisa dihasilkan dalam waktu singkat.

“Jadi sejak Kampung Sawah ini ada, pola hidup masyarakat yang rukun ini sudah ada, seperti itu. Jadi bukan produk zaman now ya,” kata dia. Tugas masyarakat kini adalah merawan warisan leluhur ini.

Jacob Napiun berpeci hitam dan Rachmadin Afif berpeci putih, dua tokoh agama di Kampung Sawah (Dok Pribadi)

Kampung Sawah kini terbagi menjadi beberapa kelurahan. Secara administratif, sebagian wilayah Kampung Sawah terletak di Jatiwarna, Jatimelati, Jatimurni (Kecamatan Pondok Melati Kota Bekasi), dan Jatiranggon (Kecamatan Jatisampurna Kota Bekasi).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kecamatan Pondok Melati 2016, jumlah penduduk berdasarkan agama adalah sebagai berikut. Di Kelurahan Jatiwarna ada 17.187 penduduk beragama Islam, Kristen 782, Katolik 612, Hindu 453, dan Budha 533. Di Kelurahan Jatimelati ada 10.112 orang Islam, 2.240 Kristen, 2.098 Katolik, 85 Hindu, dan 192 Budha. Di Kelurahan Jatimurni, ada 15.423 orang Islam, 2.581 Kristen, 5.153 Katolik, 625 Hindu, dan 726 Budha.

Di Kelurahan Jatiwarna ada 9 mesjid dan 7 musala. Di Jatimelati ada 11 mesjid, 3 musala, dan 4 gereja. Di Jatimurni ada 16 mesjid, 2 musala, dan 12 gereja.

Berdasarkan data BPS Kecamatan Jatisampurna 2017, di Kelurahan Jatiranggon ada 21.229 penduduk beragama Islam, 1.628 Kristen, 459 Katolik, 59 Budha, 104 Hindu, 15 Konghucu, dan 73 lainnya. Ada 20 mesjid, 19 musala, dan 2 gereja Kristen.

Melangkah meninggalkan jalan utama, detikcom berbelok menyusuri permukiman kampung sawah. Langit sudah menunjukkan waktu sore dan sedikit mendung, namun belum ada tanda hujan akan turun. Di jalanan yang hanya bisa dilewati 1 mobil, berjejer rumah-rumah warga. Di satu pojokan, terlihat sejumlah gadis remaja duduk bercengkrama.

Berjalan lebih jauh lagi, ada empat anak yang sedang bermain sepeda, salah satunya masih memakai seragam sekolah. Seekor anjing membuntuti mereka.

“Anjingnya nggak galak, Om,” ujar salah satu anak saat anjing tersebut mulai mendekati saya.

Agatha Ani (Foto: Adhi Indra Prasetya/detikcom)

Di satu rumah Kampung ini, yakni di Gang Nyimin, ada perempuan paruh baya berkerudung kuning. Namanya Agatha Ani (52). Dia adalah Ketua RW 04 Kampung ini. Dia merasakan sendiri sedari kecil hingga saat ini, tak pernah ada konflik bernuansa agama di Kampung Sawah.

“Walaupun kita berlainan agama, tidak pernah muncul sesuatu yang membuat saling mengejek, saling menghina agama lain, itu nggak ada,” kata dia.

“Dari saya kecil sampai saya setua ini, sudah kepala lima, saya melihat begitu rukunnya Kampung Sawah. Malah saya bangga jadi orang Kampung Sawah,” ujar Agatha.

Simak pula berita-berita lain di detikcom tentang toleransi antarumat beragama di seputar Jakarta.
(dnu/rna)

sumber : https://news.detik.com/

Tentang Admin

Lainnya

Rosario Bersama Pertama Umat Santa Clara di Pelataran Maria Memanggil

Sejak Paroki Bekasi Utara, Gereja Santa Clata berdiri 21 tahun, inilah (1 Oktober 2019) pertama …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *