Home / Info KAJ / Uskup Suharyo : Koruptor Tidak Berhikmat dan Tidak Bermartabat

Uskup Suharyo : Koruptor Tidak Berhikmat dan Tidak Bermartabat

Kardinal Ignatius Suharyo Hardjoatmodjo

Memasuki tahun pelayanan 2019 Uskup Agung Jakarta mengeluarkan Surat Gembala berjudul Kita Berhikmat, Bangsa Bermartabat. Surat Gembala tersebut dirilis pada 3 Januari dan dibacakan sebagai pengganti khotbah dalam misa di seluruh paroki di KAJ pada Sabtu dan Minggu (6 dan 7 Januari). Surat Gembala tersebut juga dibacakan secara lengkap dalam beberapa kali Misa di Gereja santa Clara.

Berbagai hal Uskup Suharyo tuangkan dalam Surat Gembala tersebut. Dia secara jelas menyinggung para pejabat dan pelaku korupsi sebagai orang yang tidak berhikmat dan tidak bermartabat.

“Tanggung jawab utama mereka (para pejabat-red) adalah memastikan terwujudnya kesejahteraan warga masyarakat yang ada di wilayah pelayanan mereka. Pejabat-pejabat dan para pelaku korupsi itu pastilah tidak menjalankan amanah sila ke-4 Pancasila, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan,” tulis sang Uskup.

Lebih lanjut katanya, mereka bukan pribadi-pribadi yang berhikmat dan bijaksana yang dapat diharapkan mampu menjadikan bangsa semakin bermartabat. Dikatakan bahwa yang paling parah dirusak oleh tindakan koruptif seperti itu adalah kesadaran moral. Ketika pemimpin berperilaku secara moral bermasalah, masyarakat dapat kehilangan orientasi nilai, tidak tahu lagi mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah. Kalau demikian kejahatan dapat dianggap sebagai hal yang rutin dan sehari-hari. Akibatnya mutu keadaban publik luntur atau bahkan rusak. Kita bertanya, pesan apa yang mau disampaikan Tuhan kepada kita lewat peristiwa-peristiwa seperti itu? Salah satu jawaban yang pasti adalah bahwa kita dipanggil untuk menjadi pribadi-pribadi yang semakin berhikmat-bijaksana, dalam segala kekayaan maknanya.

Uskup Suharyo juga menyinggung soal keteledotsm masyarakat Indonesia dalam memroduksi dan membuang sampah. Uskup mengutip berita tentang seekor ikan paus terdampar di salah satu pulau di bagian timur Indonesia dalam kondisi membusuk. Yang mengenaskan jelasnya, hampir enam kilogram sampah plastik ditemukan di dalam perut ikan paus tersebut. Sampah plastik saat ini sudah menjadi masalah global yang perlu kita sikapi dengan sungguh-sungguh. Sampah plastik yang sudah mengurai menjadi butiran-butiran kecil, makin mencemari alam kita.

Menurut penelitian, jelasnya lagi, butiran-butiran plastik yang sangat kecil sudah ditemukan dalam tubuh manusia. Butiran-butiran itu masuk melalui air minum, makanan laut dan garam yang manusia makan. “Kita prihatin karena negara kita menjadi penyumbang sampah plastik kedua di dunia, dengan jumlah 64 juta ton setiap tahun, 3,2 juta ton di antaranya masuk ke laut. Kita bertanya, pesan apa yang mau disampaikan Tuhan kepada kita lewat data seperti ini? Salah satu jawaban yang pasti adalah bahwa kita dipanggil untuk menjadi pribadi-pribadi yang semakin berhikmat-bijaksana, juga dalam segala kekayaan maknanya.”

Uskup Suharyo mengingatkan bahwa di tengah-tengah kenyataan tersebut, orang Katolik diingatkan akan panggilan dasar mereka sebagai murid-murid Kristus. Panggilan sebagai murid-murid Kristus ditegaskan dengan sangat bagus dalam ajaran resmi Gereja. “…. Bagi semua jelaslah bahwa semua orang kristiani, bagaimana pun status atau corak hidup mereka, dipanggil untuk mencapai kepenuhan hidup kristiani dan kesempurnaan kasih. Dengan kesucian itu, juga dalam masyarakat di dunia ini, cara hidup menjadi lebih manusiawi …” (EDL)

Tentang Admin

Lainnya

Ulasan 4 Pertemuan BKSN 2018 (Bulan Kitab Suci Nasional 2018) oleh Rm Yoseph Susanto Pr

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *